29.1.18

Cara Sholat Gerhana

IN SYAA ALLAH PADA HARI RABU TANGGAL 13 JUMADIL ULA 1439 H. YANG BERTEPATAN DENGAN TANGGAL 31 JANUARI 2018 M. AKAN TERJADI GERHANA BULAN TOTAL
.
a. Awal Gerhana Bulan : pukul 18:48:27 WIB
b. Mulai Total Gerhana : pukul 19:51:47 WIB
c. Pertengahan Gerhana : pukul 20:29:49 WIB
d. Akhir Total Gerhana : pukul 21:07:51 WIB
e. Akhir Gerhana : pukul 22:11:11 WIB
.
a. Mulai Takbir : pukul 18.50 WIB, Shalat Isya 19.30 WIB
b. Shalat Gerhana : pukul 20.00 WIB
.
KAIFIYAH (TATA CARA) SHALAT GERHANA
.
Shalat Kusuf (di waktu ada Gerhana Matahari) dan Khusuf (di waktu ada Gerhana Bulan)
.
Hal Yang Berkaitan Dengan Terjadinya Gerhana
Pada waktu terjadinya selain Shalat Gerhana dua raka'at, ada perintah:
1- Berkhutbah (seperti khutbah Jum'at, tetapi tidak ada duduk antara dua khutbah, hanya sekali khutbah) setelah shalat dengan memberi nasihat apa yang perlu di waktu itu, menerangkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang Maha Besar, dan mengingatkan, bahwa gerhana itu terjadinya bukan karena mati atau hidup seseorang, melainkan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. yang ditunjukkan kepada kita.
2- Membanyakan menyebut asma Allah (bertakbir) dengan mengingat kekuasaan-Nya.
3- Berdo'a meminta sekalian apa yang hendak diminta, dan minta ampun dari dosa.
4- Bershadaqah
5- Memerdekakan hamba sahaya, kalau ada.
.
Cara Shalat Gerhana:
Shalat gerhana itu, dua raka'at berjama'ah dengan tidak ada adzan dan iqomah. Shalatnya seperti Shalat Shubuh, tetapi di tiap-tiap raka'at ditambah satu ruku', yaitu sesudah bangkit dari ruku' dengan membaca "Sami'allahu liman hamidah" dan "Rabbanaa walakal hamdu" terus berdiri dan dilanjutkan membaca al-Fatihah dan Surat lagi, sesudahnya kemudian ruku' lagi, lalu bangkit dari ruku', lalu sujud lalu duduk lalu sujud, demikianlah selanjutnya dalam raka'at kedua. Jadi Shalat Gerhana itu dua raka'at dengan empat ruku' dan empat sujud.
.
Dalil-dalil Shalat Gerhana
.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَبَعَثَ مُنَادِيًا بِالصَّلاَةُ جَامِعَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (berkata): "Bahwasanya Matahari terjadi gerhana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mengutus penyeru mengajak orang-orang berkumpul untuk shalat, kemudian beliau berdiri shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud". [H.R. al-Bukhari: 1066 & Muslim: 2131]
.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ، فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ » . ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِىَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ الأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ: « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ». ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ فَعَلَ فِى الرَّكْعَةِ الأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ ، وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ »
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Raslullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke masjid kemudian berdiri dan bertakbir dan orang-orang pun berbaris di belakangnya, lalu beliau membaca dengan bacaan yang panjang kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau berdiri lalu membaca dengan bacaan yang panjang tetapi kurang dari bacaan yang pertama, kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang tetapi kurang dari ruku' yang pertama, (kemudian mengangkat kepalanya) sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau sujud (dua kali sujud) kemudian beliau melakukan pada raka'at yang selanjeutnya seperti itu hingga sempurna dikerjakan empat raka'at dan empat sujud dan gerhana Matahari pun berakhir sebelum beriau berpaling, kemudian beliau berdiri dan berkhutbah memuji dan menyanjung Allah sengan sepantasnya, dan beliau bersabda: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah bersegera melaksanakan shalat (gerhana)". [H.R. al-Bukhari: 5197 & Muslim: 2129]
.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (ia berkata): "Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaannya pada shalat gerhana, beliau shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud" [H.R. al-Bukhari: 1065 & Muslim: 2131]
.
Anjuran Bershadaqah, Istighfar, Dan Dzikir Pada Kejadian Gerhana, Dan Keluar Waktu Selesai Shalat Dengan Keadaan Terang
.
عَنْ أَسْمَاءَ رضي الله عنها قَالَتْ: لَقَدْ أَمَرَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِالْعَتَاقَةِ فِى كُسُوفِ الشَّمْسِ
Dari Asma' Radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memerdekakan hamba sahaya pada hari terjadi gerhana Matahari". [H.R. al-Bukhari: 1054]
.
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا »
Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha: Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah berdo'a kepada Allah SWT., bertakbir, shalat, dan bershadaqah". [Muttafaq Alaih]
.
عَنْ أَبِى مُوسَى رضي الله عنه قَالَ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَقَامَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم فَزِعًا ، يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ ، فَأَتَى الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ وَقَالَ « هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِى يُرْسِلُ اللهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللهُ بِهِ عِبَادَهُ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ »
Dari Abu Musa Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Telah terjadi gerhana Matahari, (di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka Nabi saw. berdiri dengan terkejut, beliau khawatir terjadi kiamat, lalu beliau menuju masjid, kemudian beliau shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang sangat lama, saya melihat beliau melakukannya, kemudian beliau bersabda: "Ini adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang Allah tunjukkan bukan dikarenakan kematian seseorang dan hidupnya, tetapi Allah pemperingatkan hamba-hamba-Nya dengannya, maka apabila kalian melihat sesuatu dari itu maka bersegeralah bangun untuk mengingat-Nya, berdo'a kepada-Nya, dan memohon ampun (dari dosa dan kesalahan) kepada-Nya". [H.R. al-Bukhari: 1059 & Muslim: 2156]
Wallahu A'lam

0 komentar:

Posting Komentar